[CERPEN] Eskrim Pantai

2:46 AM Dika 0 Comments


Hey, apa kamu tidak kelelahan?

Iya, kan? Di ujung sana ada pantai yang bagus, mungkin kita bisa mampir dulu. Tengah hari seperti ini membuatku ingin menggigit eskrim disana. Hmm? Kenapa? Hahaha… Kenapa ya? Kenapa memangnya? Apakah salah kalau ingin makan eskrim di pantai? Iya sih, bisa saja kita mampir di mini market, dan langsung makan di mobil agar perjalanan kita tetap berlanjut. Tapi hey, bukankah perjalanan ini untuk kita nikmati? Lagipula mata sipitmu sekarang sudah benar-benar ingin menutup, kamu pasi mengantuk, kan? Makanya… Eh… Belok kiri, Dim.

Hampir saja kelewatan.


***


Penjual eskrimnya masih disana, sepertinya kita harus jalan di tepi pantai ini dulu.

Kelihatannya pantai ini sepi ya. Iya juga ya. Sepertinya hanya dua idiot ini yang berniat mencari masalah dengan teriknya matahari yang sedang bersinar tepat ada di atas kita. Hahaha. Iya iya, maaf. Cuma aku idiotnya.
Hey, kamu tahu? Biarpun disiram oleh teriknya sang mentari, pantai tetaplah pantai. Lautnya biru menghampar sepanjang mata memandang, ombak yang berdesir senada dengan hembusan angin, dan yang terburuk, aroma asin yang amat menusuk hidungku ini. Ya memang, kamu patut menatap aneh padaku, karena mungkin cuma aku, wisatawan pengunjung pantai yang setiap menit harus menutup mulut dan hidung, lalu mengeluh tentang asinnya aroma air laut. Dan lihat angin yang kencang ini, bahkan berjalan saja aku harus memegangi rokku yang dari tadi ditiup nakal oleh angin laut. Kamu enak, pakai celana pendek, pastinya dengan santai menikmati hembusan angin nakal ini tanpa sedikitpun memaki kepadanya.

Pantai ini mungkin akan terlihat indah ketika pagi hari, saat matahari pagi mengintip malu dari ufuk timur, menyemburatkan cahaya-cahaya merah indahnya. Sayangnya kita datang pada saat matahari sudah tak tahu malu lagi, panasnya benar-benar menyengat. Bahkan tak ada sedikitpun awan yang berani menghalanginya. Lautan yang harusnya berwarna biru menyejukkan mata, sekarang lihatlah, melirik saja membuat mataku jadi lebih sipit daripada matamu. Dan kamu juga bias lihat, di ujung lautan sana, batas horizon tak lagi nampak, seolah lautan menyatu dengan langit siang ini.

Mungkin kamu tidak mengerti maksudku aroma yang asin. Ya seperti inilah aromanya. Aroma khas pantai. Memangnya hanya lidah yang bisa mengecap asinnya air laut? Hidungku ini bisa mengecapnya bahkan sebelum aku julurkan lidah ke air laut itu. Argh. Maaf, Dim. Mungkin ucapanku tidak terdengar jelas di telingamu. Karena setiap angin sialan ini berhembus aku harus selalu kerepotan, bingung antara menutup hidung, atau memegangi rok dan topiku. Dan… Ah.. Itu dia penjual eskrimnya. Kamu mau beli juga?


***


Aku harap kamu tidak bosan mendengar semua kutukanku terhadap asinnya aroma disini. Kalau kamu ingin tahu, sebenarnya aku membenci pantai sejak lama. Aroma asin yang ditiup angin ini, entah kenapa, aku tidak menyukainya. Dan sejatinya pun, lidahku juga memang tidak menyukai rasa asin seperti ini. Dan sekarang coba lihat, manusia yang mengutuk rasa asin ini malah mendatangi ladang garam terbesar di dunia demi seporsi eskrim. Hahaha. Silakan, kamu boleh menertawai ironi yang sedang terjadi tepat di depan matamu.  Tapi kamu tahu? Dari semua eskrim yang pernah aku kecap, eskrim pantai ini adalah yang terbaik. Itulah alasanku datang kesini.

Tapi ya, mungkin kamu benar. Mungkin sebenarnya bukan eskrim ini yang aku nikmati. Atau bahkan mungkin aroma asin ini yang sebenarnya sedang aku nikmati. Atau mungkin perpaduannya? Manisnya eskrim ini yang membuatku lupa akan asinnya aroma lautan itu. Dingin yang merambat di tenggorokan meneduhkanku dari hawa panas matahari pantai. Oh ini perpaduan yang sempurna. Eskrim ini adalah surga kecil di tengah kutukan suasana pantai. Mungkin inilah cara terbaik untuk menikmati eskrim. Adalah dengan mengecapnya di kondisi yang paling tidak kamu sukai. Eskrim akan terasa enak saat kamu menangis, saat kamu terluka, atau saat tenggorokanmu tersiksa setelah operasi amandel. Ya, eskrim adalah candu peredam kesakitan itu. Candu? Mungkin kedengarannya konyol dan terlalu berlebihan. Tapi coba pikirkan, dengan segenggam eskrim di tanganmu setidaknya kamu bisa melupakan perasaan negatif akan segala hal yang terjadi padamu. Aku rasa manusia butuh itu. Iya kita semua. Kita membutuhkan “eskrim” kita masing-masing. Eskrim yang memberikan kita kesempatan untuk berharap banyak kepada dunia, ketika diri ini rasanya tak sanggup lagi menerima realita. Dan saat eskrim itu sudah meleleh habis di tenggorokanmu, paling tidak candunya masih cukup membekas untuk menutupi asinnya realita.

Haah… Lihat, eskrimku cepat sekali meleleh. Padahal aku ingin menikmatinya perlahan. Sangat perlahan. Hingga dapat kunikmati tanpa ada rasa sesal yang tertinggal. Terlalu perlahan. Sampai Ia tak mampu lagi untuk meleleh. Tapi aku masih cukup waras. Aku sadar itu egois. Candu ini harus aku akhiri sekarang. Aku tahu persis. Eskrim ini tak lain hanyalah benda fana yang menawarkan kenikmatan semu. Dan aku sangat paham, asinnya air laut inilah yang abadi.


***


Hey, Dim…
Ayo…

Perjalanan kita masih jauh, ayo kita lanjutkan. Kita harus sampai disana sebelum matahari karam di laut barat.

Hey, apa kamu tidak kelelahan? Iya, kan? Di ujung sana ada pantai yang bagus, mungkin kita bisa mampir dulu. Tengah hari seperti ini...

0 comments: